TESIS BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1  Kajian Pustaka
2.1.1        Sertifikasi Guru
Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional .Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas.Sertifikasi dapat pula diartikan sebagai proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memilki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.
Isu yang paling menjadi perhatian di dunia pendidikan setelah pengesahan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Desember 2005 adalah persoalan sertifikasi guru. Ada yang memahami bahwa guru yang yang sudah mempunyai jenjang S-1 Kependidikan secara otomatis sudah bersertifikasi. Ada juga yang memahami bahwa sertifikasi hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang di tunjuk oleh pemerintah.
Agar pemahaman sertifikasi lebih jelas, maka berikut ini dikutipkan beberapa pasal yang tertuang di dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah sebagai berikut:
1)      Pasal 1 butir 11: Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik   kepada guru dan dosen.
2)      Pasal 8: Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,    
sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
3)      Pasal 11 butir 1: Sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.
4)      Pasal 16: Guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gajipokok,baik guru negeri maupun swasta semuanya dibayar oleh pemerintah.
a)  Perlunya Guru Disertifikasi
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengisyaratkan akan memberlakukan sertifikasi bagi guru, sebagaimana yang telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang program pembangunan nasional yang berisi pembentukan badan akreditasi dan sertifikasi mengajar di daerah. Undang-Undang tersebut dikeluarkan dengan tujuan meningkatkan kualitas tenaga kependidikan secara nasional.
Tidak cuma di Indonesia, sertifikasi guru juga sudah diberlakukan di Negara Asia, Cina  telah memberlakukan sertifikasi guru sejak tahun 2001. Termasuk juga dengan Filipina dan Malaysia juga telah mengisyaratkan kulaifikasi akademik minimum dan standar kompetensi bagi guru (Muslich 2007: 4).
Kemudian muncul pertanyaan kenapa guru perlu disertifikasi? Melihat nasib dan kesejahteraan guru di Indonesia, memang sangat memprihatinkan.Bayangkan saja sebagian guru mengakui ada yang mencari objekan di luar tugas mengajar, seperti menjadi guru privat, bahkan ada guru yang menjadi tukang ojek.
Oleh sebab itu, pemerintah ingin memberikan reward berupa penghargaan/pemberian tunjangan profesional yang berlipat dari gaji yang diterima. Harapan kedepannya adalah tidak ada lagi guru yang bekerja mencari objekan diluar dinas karena kesejahteraannya sudah terpenuhi. Tapi apakah tujuannya hanya untuk meningkatkan kesejahteraan guru tanpa mengesampingkan profesionalitas guru dalam mengajar?
Secara formal, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional.
Sebagai tenaga profesional, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D4 dalam bidang yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.
b)  Manfaat dan Tujuan Sertifikasi
Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Oleh sebab itu, jika kita menilik kembali Undang-Undang Guru dan Dosen, maka akan diketahui tujuan sertifikasi bahwa sertifikasi sebagai bagian dari peningkatan mutu guru dan kesejahteraannya, sehingga diharapkan guru menjadi pendidik yang profesional, yaitu yang berpendidikan minimal S-1 / D4.
Adapun manfaat sertifikasi adalah sebagai berikut:
Pertama, melindungi profesi guru dari praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru.
Kedua, melindungi masyarakat dari praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan Sumber Daya Manusia di negeri ini. Ketiga, menjadi wahana penjamin mutu bagi LPTK yang bertugas mempersiapkan calon guru dan juga berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan.
Keempat, menjaga lembaga penyelenggara pendidikan dari keinginan internal dan eksternal yang potensial dapat menyimpang dari ketentuan yang berlaku (Mansur Muslich 2007: 9). 
c)  Hal yang Diujikan  dalam Sertifikasi
Dalam rangka memperoleh profesionalisme guru, maka hal yang diujikan dalam sertifikasi adalah kompetensi guru. Kompetensi adalah kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.
Dalam Kepmendiknas Nomor 045/U/2002 menyatakan bahwa: Kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidik Pasal 28, kompetensi guru meliputi: “Kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Jadi, keempat jenis kompetensi
guru itulah yang diujikan dalam sertifikasi”.
1.      Profesionalisme Guru
a)      Pengertian
Istilah profesional berasal dari profession yang berarti pekerjaan, Arifin (1995: 105)profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus
Danim (2002:23) mengatakan bahwa tuntutan kehadiran guru yang professional tidak pernah surut, karena dalam latar proses kemanusiaan dan pemanusiaan, ia hadir sebagai subjek paling diandalkan .
b)     Perlunya Guru Profesional
Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif dalam kelas.
Keberadaannya di tengah-tengah siswa dapat menciptakan suasana kebekuan, kekakuan dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Kondisi seperti itu ternyata memerlukan keterampilan dari seorang guru, dan tidak semua mampu melakukannya. Menyadari hal itu, maka peneliti menganggap bahwa keberadaan guru profesional sangat diperlukan.
Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menjadi guru profesional, mereka harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualkan diri. Pemberian prioritas yang sangat rendah pada pembangunan pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir telah berdampak buruk yang sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (Asrorun, 2006: 9).
Untuk itu, guru diharapkan tidak hanya sebatas menjalankan profesinya, tetapi guru harus memiliki keterpanggilan jiwa untuk melaksanakan tugasnya dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan terhadap peserta didik baik dari segi intelektual maupun kompetensi lainnya yang akan menunjang perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
c)      Kriteria-Kriteria Guru Profesional
Keberhasilan guru dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, guru dipandang berhasil apabila mampu melibatkan sebagian peserta didik secara aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran serta adanya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, guru dipandang berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku pada sebagian besar peserta didik kearah yang lebih baik.
Oleh karena itu, guru yang profesional harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Hamalik (2002:160) dalam bukunya “Proses Belajar Mengajar”, guru professional harus memiliki persyaratan, yaitu sebagai berikut:
1) Memiliki bakat sebagai guru.
2) Memiliki keahlian sebagai guru.
3) Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
4) Memiliki mental yang sehat.
5) Berbadan sehat.
6) Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
7) Guru adalah manusia berjiwa pancasila.
8) Guru adalah seorang warga yang baik.
d)     Kemampuan Yang Harus Dimiliki Guru Profesional
Sebagaimana lazim dipahami bahwa dikalangan pendidikan, guru dipandang sebagai sosok yang utuh apabila memiliki kompetensi profesional. Kompetensi profesional guru terdiri atas beberapa kemampuan, yaitu sebagai berikut:
1)      Mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani.
2)      Menguasai bidang ilmu atau sumber bahan ajar, baik dari segi:
a)      Substansi dan  metodologi bidang ilmu  ( disciplinary content knowledge )
b)      Pengemasan bidang ilmu menjadi bahan ajar dalam kurikulum (pedagogical content knowledge).
3)      Menyelenggarakan pembelejran yang mendidik, yang mencakup:
a)      Perancangan program pembelajaran berdasarkan serangkaian keputusan situasional,
b)      Implementasi program pembelajaran termasuk penyesuaian sambil jalan (midcourse) berdasarkan on going transactionaldecision berhubungan dengan adjustments dan reaksi unik (idiosyncratic response) dari peserta didik terhadap tindakan guru,
c)      Mengakses proses dan hasil pembelajaran
d)     Menggunakan hasil asesmen terhadap proses dan hasil pembelajaran dalam rangka perbaikan pengelolaan pembelajaran secara berkelanjutan.
4)      Mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan.
Disamping itu ada satu hal lagi yang perlu mendapatkan perhatian khusus bagi guru yang profesional, yaitu kondisi yang nyaman, lingkungan belajar yang baik secara fisik maupun psikis.
 Demikian juga Mulyasa (2002:187) mengatakan tugas guru yang paling utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga timbul minat dan nafsunya untuk belajar .

e)      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profesionalisme Guru
Menurut Alimuddin (2012:60) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi profesionalisme guru dalam mengajar, yaitu sebagai berikut:
1)      Status Akademik
Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang bersifat profesi, secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesi adalah pekerjaan yang hanya dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan untuk pekerjaan lainnya.
2)      Pengalaman Belajar
Dalam menghadapi peserta didik, tidak mudah untuk mengorganisir mereka, dan hal tersebut banyak menjadi keluhan, serta banyak pula dijumpai guru yang mengeluh karena sulit untuk menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Hal tersebut dikarenakan guru kurang mampu untuk menguasai dan menyesuaikan diri terhadap proses belajar mengajar yang berlangsung.
3)      Mencintai Profesi Sebagai Guru
Rasa cinta akan mendorong individu untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dan pengorbanan. Seseorang yang melakukan sesuatu tanpa adanya rasa cinta, biasanya orang tersebut akan melakukannya dalam keadaan terpaksa. Dalam melakukan sesuatu akan lebih berhasil apabila disertai dengan adanya rasa mencintai terhadap apa yang dilakukannya itu.
4)      Berkepribadian
Secara bahasa kepribadian adalah keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak seseorang. Dalam proses belajar mengajar, kepribadian seorang guru ikut serta menentukan watak siswanya.

2.1.2        Motivasi Kerja Guru
Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu ‘movere’ yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan  perilaku  manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.
            Winardi, (2001:65) membedakan motivasi atas dua klasifikasi yaitu internal dan eksternal:
Teori motivasi internal berpusat pada kebutuhan individu, keinginan dan harapannya sebagai kekuatan yang menyusun motivasi. Potensi yang ada pada seorang individu seperti kebutuhan dan keinginan mempengaruhi perilakunya dalam mencapai tujuan dan sasarannya yang selanjutnya berakumulasi kepada pencapaian tujuan dan sasaran kelompok dan organisasi. Motivasi eksternal merupakan gabungan dari faktor-faktor internal dengan faktor-faktor eksternal seperti kebijakan organisasi sebagai penyusunannya.
Setiap individu dalam kegiatan sehari-harinya tidak terlepas dari keinginan dan kebutuhan tertentu untuk mencapai tujuan. Keinginan dan kebutuhan dalam melakukan aktivitas inilah yang disebut motivasi. Terdapat beberapa pengertian motivasi, yang penulis kutip antara lain  sebagai berikut :
a.       Motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks dalam suatu organisme yang mengarah pada tingkah laku ke suatu tujuan atau perangsang, (Purwanto, 1990:6).
b.      Motivasi adalah suatu daya yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah  laku atau perbuatan, (Usman, 2004: 24).
c.       Motivasi adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan, (Sardiman,1994:73).
Dari ketiga pendapat ahli diatas secara umum dapat kita ambil persamaan tentang unsur-unsur motivasi yaitu, suatu daya atau penggerak yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu aktifitas untuk mencapai suatu tujuan.
            Berangkat dari definisi motivasi tersebut, Usman (2004:24) menyatakan bahwa: “…Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motivasi-motivasi menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan”. Motivasi diartikan juga sebagai suatu usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan individu untuk mengembangkan dan mengaktifkan motivasi-motivasi yang ada dalam diri yang dapat diwujudkan dalam perbuatan atau tingkah laku. Hal ini senada dengan pendapat Sardiman (1994: 12) yaitu: “…Motivasi dapat dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu”.
            Motivasi merupakan suatu penggerak yang timbul dari diri seseorang untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeharto (1991:53), menyatakan bahwa: “…Motivasi adalah inisiatif untuk menggerakkan yang didasarkan atas pengembangan potensi (kesadaran) seseorang itu sendiri untuk melakukan sesuatu”. Pendapat diatas, didukung oleh Rusyan, dkk,(2000: 100), menyatakan bahwa:
 ...Motivation is energy change within the person carterized by affective arousal and anticipatory goal reactions.” (Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan).
            Pendapat lain mengenai motivasi ini dikemukakan oleh Terry yang dikutip Moekiyat (2005: 10), menyatakan bahwa: “…Motivasi adalah dorongan prilaku yang timbul dalam diri individu yang mendorong ia untuk bertindak”.
            Pendapat yang lebih luas mengenai motivasi diungkapkan Makmun (2003:29), menyatakan bahwa meskipun para ahli mendefinisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun esensinya menuju kepada maksud yang sama, ialah bahwa motivasi adalah (a) Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy), (b) Suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiap-sediaan (preparatory set) dalam diri individu (organisme) untuk bergerak (to move, motion, motive) kearah tujuan tertentu baik disadari maupun tidak disadari.
            Berdasarkan beberapa pendapat mengenai motivasi  tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu unsur yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
            Motivasi yang terdapat pada seseorang dalam kegiatannya yang dilakukan dapat dilihat dari beberapa indikatornya, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Makmun (2003: 4), yaitu :
1.Durasi kegiatan, (berapa lama kemampuan penggunaan waktu untuk melakukan kegiatan);2.Frekuensi kegiatan, (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu).;3.Persistensinya, (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan.;4.Ketabahan, keuletan dan kesulitan untuk mencapai tujuan.;5.Pengabdian dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.;6.Tingkatan aspirasi, (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target).;7.Tingkatan kualifikasi prestasi atau produk yang dicapai dari kegiatannya dan; 8.Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan.
            Dari pendapat Makmun diatas diuraikan, kuat tidaknya motivasi dari seseorang dapat dilihat dari indikator-indikator dari tindakan yang dilakukan, indicator-indikator tersebut merupakan motivasi yang bersifat intrinsic maupun ektrinsik.       
Motivasi sebagai salah satu penggerak manusia untuk melakukan aktivitasnya memiliki fungsi yang sangat penting. Tabrani, dkk (1994: 123), menjelaskan beberapa fungsi motivasi, yaitu :
1)      Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan.
2)      Mengarahkan aktivitas bekerja guru.
3)      Menggerakkan seperti mesin bagi mobil.
Pendapat lain dari Nasution (2007: 79), mengemukakan bahwa fungsi motivasi sebagai berikut:
1)      Mendorong   manusia  untuk   berbuat  sebagai penggerak atau motor yang  
 melepaskan energi,
       2)   Menentukan   arah   perbuatan, yakni  kearah  tujuan yang hendak dicapai 
       3)   Menyeleksi perbuatan,apa yang harus dijalankan dan perbuatan apa  yang  
             tidak bermanfaat bagi mencapai tujuan itu.
Berangkat dari pendapat Tabrani dan Nasution diatas semakin jelas ,bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang pasti ada faktor-faktor yang mendorongnya dan tindakan-tindakan seseorang tersebut pasti mempunyai tujuan, serta tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan.
2.1.2.1  Macam macam teori motivasi
Terdapat 6 teori motivasi yang paling populer dan berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi,yaitu:

1.  Teori Harapan (Expectancy Theory)
 Menurut  Donovan, (2001:123), orang termotivasi untuk melakukan perilaku tertentu berdasarkan tiga persepsi:
1).Expectancy: seberapa besar kemungkinan jika mereka melakukan    perilaku      tertentu mereka akan mendapatkan hasil; 2). Instrumentality: seberapa besar hubungan antara prestasi kerja dengan hasil kerja yang lebih tinggi (yaitu penghasilan,baik berupa gaji ataupun hal lain yang diberikan perusahaan seperti asuransi kesehatan, transportasi, dsb); 3).Valence: seberapa penting si pekerja menilai penghasilan yang diberikan perusahaan kepadanya.

Teori ini berpendapat bahwa seseorang dalam suatu organisasi akan melakukan suatu tindakan tertentu manakala seseorang tersebut akan mendapatkan hasil atau imbalan  dari tindakanya tersebut.
2.  Teori Efek Hawthorn
            Menurut Donovan, (2001:120), motivasi berdampak pada kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah:
       a.Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan  dibandingkan dengan kondisi fisik  lingkungan kerja.; b. Sikap karyawan dipengaruhi     oleh kondisi yang terjadi baik di dalam        maupun di luar lingkungan tempat kerja.;c. Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam    membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.;
d. Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan  dan dikembangkan.
Dalam penelitian ini membuktikan bahwa karyawan yang memiliki motivasi berdampak dalam kinerja dan sikapnya dalam bekerja, motivasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan fisik dan non fisik juga lingkungan internal dan eksternal organisasi.
3. Teori Kebutuhan
            Menurut Maslow (Hodgetts, 1975:230), pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologis.
b. Kebutuhan rasa aman.
c. Kebutuhan sosial.
d. Kebutuhan harga diri.
e. Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat hierarkis, yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila kebutuhan dasar sebelumnya telah dipenuhi. Setelah kebutuhan fisiologis seperti pakaian, makanan dan perumahan terpenuhi, maka kebutuhan tersebut akan digantikan dengan  kebutuhan rasa aman dan  seterusnya. Sehingga tingkat kebutuhan seseorang akan berbeda-beda dalam bekerja.
4. Teori X dan Y
Menurut Siagian (2002:106) mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y.
Teori X menganggap bahwa:
1.Karyawan tidak suka bekerja dan cenderung untuk menghindari kerja.;2. Karyawan harus diawasi dengan ketat dan diancam agar mau bekerja dengan  baik.;3. Prosedur dan disiplin yang keras lebih diutamakan dalam bekerja.;4. Uang bukan satu-satunya faktor yang memotivasi kerja dan;4. Karyawan tidak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Yang dimaksud X dalam teori ini adalah faktor-faktor yang merupakan penyebab rendahnya motivasi karyawan dalam bekerja, rendahnya motivasi kerja karyawan tersebut lebih cenderung merupakan  penyebab yang berasal dari faktor ektern atau dari luar diri karyawan.
Teori Y menganggap bahwa:
   1.Karyawan senang bekerja, sehingga pengawasan dan hukuman tidak diperlukan oleh karyawan.;2.            Karyawan akan memiliki komitmen terhadap  pekerjaan dan organisasi jika merasa memuaskan.;3.Manusia cenderung ingin belajar dan; 4.Kreatifitas dan Imajinasi digunakan untuk memecahkan masalah.
Yang dimaksud Y dalam teori ini adalah faktor-faktor yang merupakan penyebab tingginya motivasi karyawan dalam bekerja, tingginya motivasi kerja karyawan tersebut lebih cenderung disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri karyawan yaitu adanya rangsangan-rangsangan organisasi atau perusahaan tempat bekerja.
5. Teori Hygine dan Motivator 
            Menurut Herzberg (Siagian 2002:107), faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak-puasan kerja sebagai berikut.
a.Faktor hygine meliputi;1.Kebijakan perusahaan dan sistem administrasi.;2. Sistem pengawasan.;3. Gaya kepemimpinan.;4 Kondisi lingkungan kerja.;5.Hubungan antar pribadi.;6.Gaji / upah.;7.Status dan; 8.Kesehatan dan keselamatan kerja.b. Faktor Motivator meliputi; 1. Pengakuan.;2.Penghargaan atas prestasi.;3.Tanggungjawab yang lebih besar.;4.Pengembangan karir.;5.Pengembangan diri dan; 6.Minat terhadap pekerjaan.
Seseorang yang bekerja dalam suatu organisasi akan sangat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya dorongan  dalam dirinya, ada faktor-faktor yang memperkuat dorongan untuk bekerja  tetapi ada pula faktor-faktor yang menghambat untuk bekerja dengan baik. Adanya motivasi yang kuat dari diri karyawan ditandai adanya kepuasan bekerja dari karyawan.


6. Teori Motivasi Berprestasi
            Menurut Suparno  (2009:34) menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi. Hasil penelitian tentang motivasi berprestasi menunjukkan pentingnya menetapkan target atau standar keberhasilan karyawan dengan ciri-ciri motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi. Karyawan lebih mementingkan kepuasan pada saat target telah tercapai dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut.
Ada tiga macam kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu:
1.Kebutuhan berprestasi (Achievement motivation), Meliputi tanggung   jawab pribadi, kebutuhan untuk mencapai frestasi, umpan      balik dan mengambil risiko sedang.;2. Kebutuhan berkuasa (Power motivation),      Meliputi persaingan, mempengaruhi orang lain.;3.Kebutuhan berafiliasi (Affiliation motivation), Meliputi persahabatan, kerjasama dan perasaan diterima, (Suparno, 2009: 34).
            Dalam lingkungan pekerjaan, ketiga macam kebutuhan tersebut saling berhubungan, karena setiap karyawan memiliki semua kebutuhan tersebut dengan kadar yang berbeda-beda. Seseorang dapat dilatihkan untuk meningkatkan salah satu dari tiga faktor kebutuhan ini. Misalnya untuk meningkatkan kebutuhan berprestasi kerja, maka karyawan dapat dipertajam tingkat kebutuhan berprestasi dengan menurunkan kebutuhan yang lain.
            Dewasa ini, salah satu penjelasan yang paling meluas diterima baik mengenai motivasi adalah teori harapan (expectancy theory) dari Victor Vroom, meskipun ada pengritiknya, namun kebanyakan bukti riset mendukung teori tersebut (Robins, 1996:215). Teori pengharapan berakar pada konsep-konsep kognitif diasumsikan sebagai pembuat keputusan yang rasional yang mengevaluasi alternatif tindakan dimana masing-masing alternatif akan berkaitan dengan penghargaan yang diharapkan, individu menilai informasi yang tersedia bagi mereka dan membuat keputusan menurut nilai konsekuensi dan kemungkinan pribadi untuk mencapai apa yang mereka harapkan. Dalam istilah praktis, teori pengharapan menyatakan bahwa seorang karyawan di motivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik. 

2.1.2.2  Faktor-Faktor Timbulnya Motivasi
            Motivasi timbul karena dua faktor, yaitu dorongan yang berasal dari dalam manusia (faktor individual atau internal) dan dorongan yang berasal dari luar individu (faktor eksternal). Faktor individual yang biasanya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu adalah :
1.  Minat
Seseorang akan merasa terdorong untuk melakukan suatu kegiatan kalau kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sesuai dengan minatnya.
2.  Sikap positif
Seseorang yang mempunyai sifat positif terhadap suatu kegiatan dengan rela  ikut  dalam  kegiatan  tersebut,   dan  akan  berusaha   sebisa  mungkin  untuk
menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan dengan sebaik-baiknya.



3.  Kebutuhan 
Setiap orang mempunyai kebutuhan tertentu dan akan berusaha melakukan kegiatan apapun asal kegiatan tersebut bisa memenuhi kebutuhannya. Kedua faktor internal dan eksternal tersebut antara lain:
a.      Motivator. Motivator adalah prestasi kerja, penghargaan, tanggung jawab yang diberikan, kesempatan untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya itu sendiri.
b.      Faktor kesehatan kerja. Faktor kesehatan kerja merupakan kebijakan dan administrasi organisasi yang baik, supervisi teknisi yang memadai, gaji yang memuaskan, kondisi kerja yang baik dan keselamatan kerja. Harapan yang ingin dicapai karyawan antara lain:
1)      Upah atau gaji yang sesuai. Upah atau gaji merupakan imbalan yang diberikan kepada seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan. Upah umumnya berupa uang atau materi lainnya. Karyawan yang diberi upah atau gaji sesuai kerja yang dilakukan atau sesuai harapan, membuat karyawan bekerja secara baik dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian hasil produksi sesuai target yang ditentukan perusahaan.  
2)      Keamanan kerja yang terjamin. Karyawan dalam bekerja membutuhkan konsentrasi dan ketenangan jiwa dan dapat diwujudkan dalam bentuk keamanan kerja. Jaminan keselamatan kerja dan asuransi apabila terjadi kecelakaan,sehingga membuat karyawan bekerja dengan sepenuh hati.
3)      Kehormatan dan pengakuan. Kehormatan dan pengakuan terhadap karyawan dapat diberikan dengan penghargaan atas jasa dan pengabdian karyawan. Kehormatan dapat berupa bonus atau cinderamata bagi karyawan yang berprestasi. Sedangkan pengakuan dapat diberikan dengan melakukan promosi jabatan.
4)      Perlakuan yang adil. Adil bukan berarti diberikan dengan jumlah sama bagi seluruh karyawan. Perlakuan adil diwujudkan dengan pemberian gaji, penghargaan, dan promosi jabatan sesuai prestasi karyawan. Bagi karyawan yang berprestasi dipromosikan jabatan yang lebih tinggi, sedangkan karyawan yang kurang berprestasi diberi motivasi untuk lebih berprestasi sehingga suatu saat memperoleh promosi jabatan. Uraian tersebut merupakan salah satu perlakuan adil sesuai prestasi karyawan, sehingga karyawan berlomba berprestasi dengan baik.  
5)      Pimpinan yang cakap, jujur, dan berwibawa. Pimpinan perusahaan merupakan orang yang menjadi motor penggerak bagi perjalanan roda perusahaan. Pimpinan yang memiliki kemampuan memimpin membuat karyawan segan dan hormat. Pimpinan juga dituntut jujur sehingga pimpinan sebagai contoh yang baik bagi karyawan yang dipimpin.
6)      Suasana kerja yang menarik. Hubungan harmonis antara pimpinan dan karyawan atau hubungan vertikal membuat suasana kerja baik. Selain itu hubungan harmonis diharapkan juga tercipta antar sesama karyawan (hubungan horizontal). Kedua hubungan baik tersebut menciptakan kondisi kerja harmonis antara pimpinan dengan karyawan dan antara sesama karyawan, sehingga suasana kerja tidak membosankan.
7)      Jabatan yang menarik. Jabatan merupakan salah satu kedudukan yang diharapkan karyawan. Promosi jabatan yang berjenjang secara baik dengan berpedoman pada prestasi kerja dan masa kerja membuat karyawan menduduki jabatan dengan jenjang teratur. Penjenjangan menciptakan keadaan kondusif bagi perusahaan. 
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
motivasi kerja dipengaruhi oleh:
1.  Minat
Seseorang karyawan yang mempunyai minat yang tinggi ditandai dengan:
a.  Perasaan senang bekerja
b.  Kesesuaian bekerja dengan keinginan
c.  Merasa sesuai dengan kebijakan pimpinan
2.  Sikap positif
Seorang karyawan mempunyai sikap positif terhadap pekerjaannya
ditandai dengan:
a.  Merasa senang apabila target yang diinginkan perusahaan terpenuhi
b.  Mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan
c.  Mempunyai disiplin kerja yang tinggi
3.  Kebutuhan
Pada dasarnya setiap orang bekerja bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, antara lain ;
a. Kebutuhan fisiologis.
b. Kebutuhan rasa aman.
c. Kebutuhan sosial.
d. Kebutuhan harga diri.
e. Kebutuhan aktualisasi diri.
4.  Rangsangan berupa bonus, gaji, intensif dan penghargaan
            Rangsangan berupa gaji atau upah, bonus, intensif  banyak menarik orang karena memberikan pengaruh terhadap kepuasan seseorang di luar pekerjaan.
Kepuasan-kepuasan yang ditimbulkan oleh penerima gaji itu antara lain:
     a.  Gaji memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik diri    
          serta  keluarganya
     b. Gaji yang cukup besar mungkin dapat pula dipakai untuk membeli    
          kebutuhan lain yang bersifat sekunder.
     c.  Gaji sering pula dipandang sebagai simbol kekayaan
     d. Gaji juga menempatkan seseorang pada kedudukan yang tinggi dalam status
          gengsi sosial.
            Menurut   As’ad ( 1999: 93), “struktur ekonomi dewasa ini adalah sedemikian rupa sehingga mendorong seseorang untuk berproduksi guna mendapatkan upah dan uang ini kemudian dapat ditukarkan dengan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan yang riil”. Dengan demikian, kerja dan upah merupakan dua hal yang tidak dapat  di pisahkan. 
Dalam kaitanya dengan motivasi kerja guru, menurut  Makmum (1996:40) terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja guru:

1.      Prinsip partisipasi
2.      Prinsip komunikasi
3.      Prinsip mengakui andil bawahan
4.      Prinsip pendelegasian wewenang
5.      Prinsip memberi perhatian
Berdasarkan pengertian di atas bahwa dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin. Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya. Pemimpin mengakui bawahan mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya. Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahan utnuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang akan dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Pemimpin memberi perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi guru bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin. Hasil penelitian Mc Cleland (2002:13) menunjukkan bahwa orang-orang yang berprestasi ( berhasil dengan predikat unggul ) mempunyai profil / karakteristik antara lain:
(1)  Pada umumnya menghindari tujuan prestasi yang mudah dan sulit, mereka sebenamya lebih memilih tujuan yang moderat yang menurut mereka akan dapat diwujudkan atau diraih;
(2)   Lebih menyukai umpan balik langsung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi;
(3)   Menyukai tanggung jawab pada pemecahan masalah.
Orang-orang yang memiliki profil/karakteristik sebagaimana tersebut diatas tidak terlalu peduli atau menghiraukan orang lain.  Baginya yang panting adalah bagaimana caranya ia dapat mencapai suatu prestasi dengan predikat unggul dibandingkan dengan yang lain. Keinginan untuk memperoleh atau mencapai sesuatu yang lebih baik dari yang lain adalah merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga ia akan terdorong untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya tersebut. Kerangka berpikir orang-orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi adalah bagaimana usaha / perjuangan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu prestasi yang unggul. Untuk pengembangan karier (di tempat kerja) tidak cukup hanya mengandalkan pada tingginya motivasi berprestasi,tetapi juga diperlukan motivasi berafiliasi dan motivasi berkuasa.
Motivasi berafiliasi adalah dorongan untuk mencari hubungan keakraban, santai dan keharmonisan dengan orang-orang lain di lingkungannya. Baginya hubungan yang akrab, santai dan harmonis dengan orang lain merupakan tujuan utama dan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Orang-orang yang mempunyai motivasi berafiliasi tinggi biasanya dapat menjadi seorang teman yang baik dan mempunyai banyak teman, karena ia selalu hangat, toleran dan sangat perhatian / peduli pada orang lain (empati).
Motivasi berkuasa adalah dorongan untuk ingin menguasai atau mendominasi orang lain dalam suatu hubungan sosial di masyarakat. Orang yang mempunyai motivasi berkuasa yang tinggi biasanya cenderung berperilaku otoriter, yang penting bagaimana caranya agar bisa menguasai / menggerakkan orang lain, sehingga orang lain kagum pada dirinya. Ada kepuasan tersendiri bila ia dapat bertindak dan berkuasa atas orang lain.
Ketiga jenis motivasi tersebut di atas kiranya sangat diperlukan dalam membina pengembangan karier, hanya kadarnya berbeda, tergantung situasi dan kondisi masyarakat di lingkungannya. Ke-tiga motivasi tersebut ada pada diri setiap orang dan biasanya hanya satu yang dominan, dan akan nampak dalam perilaku keseharian.   Untuk mengetahui tinggi rendahnya suatu jenis motivasi yang dimiliki oleh seseorang digunakan instrumen psikologi yang dapat mengindikasikan bahwa seseorang mempunyai tingkat motivasi berprestasi/berafiliasi/berkuasa tinggi atau rendah.
2.1.3        Kualitas Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14).
Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu peoses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
Pembelajaran adalah proses interaksi antara murid atau siswa atau peserta didik dengan pendidik dimana mereka memiliki sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengankata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pembelajaran, peserta diberi pelajaran bukan sekedar menguasai isi pelajaran tetapi juga mencapai sesuatu tujuan yang ditentukan (aspek kognitif), mengalami perubahan sikap (aspek afektif), serta peningkatan keterampilan (aspek psikomotor). Pembelajaran mengutamakan  adanya interaksi antara sumber belajar dengan peserta. Pembelajaran merupakansuatu proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Perkembangan jaman menuntut untuk belajar terus menerus atau belajar berkelanjutan agar tujuan pembelajaran dapat berkembang dan terpelihara dengan baik.
Berikut ini adalah prinsip umum pembelajaran berkualitas yang penulis rangkum dari beberapa pakar pembelajaran yang meliputi:
1.      Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan perhatian dan juga motivasi untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri siswa tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut perlu dibangkitkan perhatiannya. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya, kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar mengenai apa yang dipelajari peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk mengarahkan diri pada tugas yang diberikan; melihat masalah-masalah yang diberikan; memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar.
Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasi untuk mempelajarinya. Misalnya, siswa yang menyukai pelajaran matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar; berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut; Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Motivasi dapat bersifat internal, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri peserta didik dan juga eksternal baik dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Berkenaan dengan prinsip motivasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, yaitu: memberikan dorongan, memberikan insentif dan juga motivasi berprestasi.
2.    Keaktifan
Menurut pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalami sendiri . Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak hanya menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Thordike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat jika sering dipakai dan akan berkurang bahkan lenyap jika tidak pernah digunakan. Artinya dalam kegiatan belajar diperlukan adanya latihan-latihan dan pembiasaan agar apa yang dipelajari dapat diingat lebih lama. Semakin sering berlatih maka akan semakin paham.. Dalam proses belajar, siswa harus menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik yang mudah diamati maupun kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan dan sebaginya. Kegiatan psikis misalnya menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan suatu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan lain sebagainya.
3.   Keterlibatan Langsung/Pengalaman.
Belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak hanya mengamati, tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia terlibat secara langsung dalam pembuatan, bukan hanya melihat bagaimana orang membuat tempe, apalagi hanya mendengar cerita bagaimana cara pembuatan tempe.
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Dalam konteks ini, siswa belajar sambil bekerja, karena dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman serta dapat mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Pembelajaran itu akan lebih bermakna jika siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukan "mengetahui" dari informasi yang disampaikan guru, sebagaimana yang dikemukakan Nurhadi bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Dari berbagai pandangan para ahli tersebut menunjukkan berapa pentingnya keterlibatan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung dan harus dilakukan oleh siswa secara aktif. Prinsip ini didasarkan pada asumsi bahwa para siswa dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dengan cara keterlibatan secara aktif dan proporsional, dibandingkan dengan bila mereka hanya melihat materi/konsep. Modus Pengalaman belajar adalah sebagai berikut: kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa jika guru mengajar dengan banyak ceramah, maka peserta didik akan mengingat hanya 20% karena mereka hanya mendengarkan. Sebaliknya, jika guru meminta peserta didik untuk melakukan sesuatu dan melaporkan nya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%.
4.   Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna. Dalam proses belajar, semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin ingat dan melekat pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya pengulangan "bahan yang belum begitu dikuasai serta mudah terlupakan" akan tetap tertanam dalam otak seseorang. Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca, tetapi juga bahkan lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari misalnya dengan membuat ringkasan.

5.   Tantangan
Teori medan (Field Theory), siswa dalam belajar berada dalam suatu medan. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan dalam mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan mampu berada dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuman yang tidak menyenangkan.
6.   Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaiatan dengan balikan dan penguatan adalah teori belajar operant conditioning, jika suatu perbuatan itu menimbulkan efek baik, maka perbuatan itu cenderung diulangi. Sebaliknya jika perbuatan itu menimbulkan efek negatif, maka cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi. Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apabila hasilnya baik akan menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja dari penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan, atau dengan kata lain adanya penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar. Siswa yang belajar sungguh-sungguh akan mendapat nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operan conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar yang lebih giat. Di sini nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat, inilah yang disebut penguatan negatif.
7.   Perbedaan Individual
Siswa merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya. Guru harus memahami perbedaan siswa secara individu, agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu. Siswa akan berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Setiap siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dapat memberi pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan kalsik yang dilakukan di sekolah kita, kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

2.2  Kerangka Pemikiran

            Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, (2) meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, (3) meningkatkan kesejahteraan guru, serta (4) meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.                   

            Kualitas pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia yang bermakna, sangat penting bagi pembangunan nasional. Bahkan dapat dikatakan masa depan bangsa bergantung pada keberadaan pendidikan yang berkualitas yang berlangsung di masa kini. Pendidikan yang berkualitas hanya akan muncul dari sekolah yang berkualitas. Oleh sebab itu, upaya peningkatan kualitas sekolah merupakan titik sentral upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas demi terciptanya tenaga kerja yang berkualitas pula. Dengan kata lain upaya peningkatan kualitas sekolah adalah merupakan tindakan yang tidak pernah terhenti, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun.

            Upaya peningkatan kualitas sekolah, tenaga kependidikan yang meliputi, tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, teknis sumber belajar, sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga pendidik/guru yang berkualitas adalah tenaga pendidik/guru yang sanggup, dan terampil dalam melaksanakan tugasnya. Tugas utama guru adalah bertanggung jawab membantu anak didik dalam hal belajar. Dalam proses belajar mengajar, gurulah yang menyampaikan pelajaran, memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kelas, membuat evaluasi belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun sesudah pelajaran berlangsung. Untuk memainkan peranan dan melaksanakan tugas-tugas itu, seorang guru diharapkan memiliki kemampuan professional yang tinggi. Dalam hubungan ini maka untuk mengenal siswa-siswanya dengan baik, guru perlu memiliki kemampuan untuk melakukan diagnosis serta mengenal dengan baik cara-cara yang paling efektif untuk membantu siswa tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing.

            Proses pembelajaran yang dilakukan guru memang dibedakan keluasan cakupannya, tetapi dalam konteks kegiatan belajar mengajar mempunyai tugas yang sama. Maka tugas mengajar bukan hanya sekedar menuangkan bahan pelajaran, tetapi menemukan stimulus untuk mengajar dan mengajar tidak hanya dapat dinilai dengan hasil penguasaan mata pelajaran, tetapi yang terpenting adalah perkembangan pribadi anak, sekalipun mempelajari pelajaran yang baik, akan memberikan pengalaman membangkitkan bermacam-macam sifat, sikap dan kesanggupan yang konstruktif.

            Dengan tercapainya tujuan dan kualitas pembelajaran, maka dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah diadakan evalusi dengan berbagai faktor yang sesuai dengan rumusan beberapa tujuan pembelajaran. Sejauh mana tingkat keberhasilan belajar mengajar, dapat dilihat dari daya serap anak didik dan persentase keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran khusus. Jika hanya 75% (tujuh puluh lima persen) atau lebih dari jumlah anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang (di bawah taraf minimal), maka proses belajar mengajar berikutnya hendaknya ditinjau kembali.Setiap yang akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam perisiapan itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi.

Guru yang memiliki komitmen yang rendah biasanya kurang memberikan perhatian kepada peserta didik, demikian pula waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang sangat sedikit. Sebaliknya seseorang guru yang memiliki komitmen yang tinggi biasanya tinggi sekali perhatiannya dalam bekerja. Demikian pula waktu yang disediakan untuk peningkatan mutu pendidikan sangat banyak. Sedangkan tingkat abstraksi yang dimaksudkan di sini adalah tingkat kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, mengklarifikasi masalah-masalah pembelajaran, dan menentukan alternatif pemecahannya. Langkah strategis dalam upaya meningkatkan kinerja guru dapat dilakukan melalui beberapa terobosan antara lain :

1)      Membantu guru memahami, memilih dan merumuskan tujuan pendidikan yang dicapai.
2)      Mendorong guru agar mampu memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi dan dapat melihat hasil kerjanya.
3)      Memberikan pengakuan atau penghargaan terhadap prestasi kerja guru secara layak, baik yang diberikan oleh Kepala Madrasah maupun yang diberikan sesama guru, staf tata usaha, siswa, dan masyarakat umum maupun yang diberikan pemerintah.
4)      Mendelegasikan tanggung jawab dan kewenangan kerja kepada guru untuk mengelola Proses Belajar Mengajar dengan memberikan kebebasan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar.
5)      Membantu memberikan kemudahan kepada guru dalam proses pengajuan kenaikan pangkatnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
6)      Membuat kebijakan  dalam pembagian tugas guru, baik beban tugas mengajar, beban administrasi guru maupun beban tugas tambahan lainnya yang disesuaikan dengan kemampuan guru itu sendiri.
7)      Melaksanakan tekhnik supervisi yang tepat sesuai dengan kemampuan dan keinginan guru-guru secara berkesinambungan dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.
8)      Mengupayakan untuk selalu meningkatkan kesejahteraannya yang dapat diterima guru serta memberikan pelayanan sebaik-baiknya.
9)      Menciptakan hubungan kerja yang sehat dan menyenangkan dilingkungan madrasah baik antara guru dengan kepala madrasah, guru dengan guru, guru dengan siswa, guru dengan tata usaha maupun yang lainnya.
10)  Menciptakan dan menjaga kondisi dan iklim kerja yang sehat dan menyenangkan di lingkungan madrasah, terutama di dalam kelas, tempat kerja yang menyenangkan, alat pelajaran yang cukup dan bersifat up to date, tempat beristirahat yang nyaman, kebersihan dan keindahan madrasah, penerangan yang cukup dan masih banyak lagi.
11)  Memberikan peluang pada guru untuk tumbuh dalam meningkatkan pengetahuan, meningkatkan keahlian mengajar, dan memperoleh keterampilan yang baru.
12)  Mengupayakan adanya efek kerja guru di sekolah/madrasah terhadap keharmonisan anggota keluarga, pendidikan anggota keluarga, dan terhadap kebahagiaan keluarganya.
13)  Mewujudkan dan menjaga keamanan kerja guru tetap stabil dan posisi kerjanya tetap nyaman sehingga guru merasa aman dalam pekerjaannya.
14)  Memperhatikan peningkatan status guru dengan memenuhi kelengkapan status berupa perlengkapan yang mendukung kedudukan kerja guru, misalnya tersediahnya ruang khusus untuk melaksanakan tugas, tempat istirahat khusus, tempat parkis khusus, kamar mandi khusus dan sebagainya. ( Junaidin, 2006).
15)  Menggerakkan guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat untuk mensukseskan program-program pendidikan di madrasah.
16)  Menciptakan madrasah sebagai lingkungan kerja yang harmonis, sehat, dinamis dan nyaman sehingga segenap anggota dapat bekerja dengan penuh produktivitas dan memperoleh kepuasan kerja yang tinggi.
Kualitas pembelajaran dapat tercapai dengan optimal, apabila faktor-faktor pendukungnya tersedia. Faktor tersebut yaitu sertifikasi guru dan motivasi kerja yang diberikan sesuai dengan beban kerja guru tersebut.
X2
X1
Y
Alur pokok dalam penelitian ini dapat digambarkan pada gambar 2.1 dibawah ini:





Gambar 2.1
Paradigma Penelitian


Keterangan:
X1          : Sertifikasi
X2          : Motivasi Kerja
Y         : Kualitas pembelajaran
            : Pengaruh




2.3  Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dikemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1.      Sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kualitas pembelajaran di sekolah  
2.      Motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap kualitas pembelajaran siswa.
3.      Sertifikasi dan motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap kualitas pembelajaran guru dan siswa.


1 Response to "TESIS BAB II KAJIAN PUSTAKA"

  1. Graton Casino & Hotel - Las Vegas - MapYRO
    Graton 화성 출장샵 Casino 광양 출장안마 & 제주 출장마사지 Hotel. 순천 출장안마 Las Vegas, NV 89109. Directions. 부천 출장마사지 633-770-3303. Map. 2200 Las Vegas Blvd S., Las Vegas.

    BalasHapus

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *