
PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PEDAGOGIK
TERHADAPKUALITAS PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
OLAHRAGA DAN KESEHATAN
(
Studi Kasus di SMK Swasta Kabupaten Sumedang )
ARTIKEL
Disusun
untuk memenuhi salah Satu Syarat
Menempuh
Ujian Sidang Magister
Oleh :
FIKI NURUL AMBIYA
NIM : 82351617023
PROGRAM
PASCASARJANA
PTOGRAM STUDI ADMINISTRSI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH
2018

PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PEDAGOGIK
TERHADAPKUALITAS PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
OLAHRAGA DAN KESEHATAN
(
Studi Kasus di SMK Swasta Kabupaten Sumedang )
Oleh
:
FIKI
NURUL AMBIYA
NIM
: 82351617023
LEMBAR
PENGESAHAN
Artikel ini disetujui untuk dimuat
dalam e-jurnal
Ketua Program Studi Administrasi
Pendidikan
Runalan,
Drs., M.Si
NIP. 195710161987031003
Ciamis, 7 Agustus 2018
PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PEDAGOGIK
TERHADAPKUALITAS PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
OLAHRAGA DAN KESEHATAN
(
Studi Kasus di SMK Swasta Kabupaten Sumedang )
Oleh :
FIKI NURUL AMBIYA
NIM : 82351617023
Abstrak
Tesis ini
berjudul PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PEDAGOGIK TERHADAP KUALITAS
PEMBELAJARAN SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA ( studi
kasus di SMK Swasta di Kabupaten Sumedang), Fiki Nurul Ambiya, NIM.
82321112023. Penelitian ini mengkaji kompetensi guru
dilihat dari kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Karena kompetensi
profesional dan kompetensi pedagogik merupakan kompetensi yang sangat penting
dan berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar. secara parsial kompetensi profesional guru
berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa di di SMK swasta yang ada
di kabupaten Sumedang
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji pengaruh antara kompetensi
profesionalisme terhadap kualitas peserta didik di SMK Swasta di Sumedang,
Untuk mengetahui dan menguji pengaruh antara kompetensi pedagogik guru penjas
terhadap kualitas peserta didik di SMK swasta di Sumedang dan Untuk mengetahui
dan menguji perbedaan antara kompetensi profesional dan pedagogik guru penjas
terhadap kualitas peserta didik di SMK swasta di Sumedang.penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kuantitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data
menggunakan angket, observasi dan wawancara.
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis
data, maka penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian sebagai berikut. 1) Terdapat
pengaruh kompetensi profesionalisme terhadap kualitas pembelajaran peserta
didik SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang, 2) Terdapat
pengaruh yang signifikan kompetensi pedagogik guru penjas terhadap kualitas
pembelajaran peserta didik SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang, dan 3) Terdapat pengaruh antara kompetensi profesionalisme dan pedagogik
guru penjas terhadap kualitas pembelajaran peserta didik SMK Swasta di Wilayah
Kabupaten Sumedang
Kata
Kunci : Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kulitas Pembelajaran
A.
Pendahuluan
Kemajuan suatu bangsa adalah dimana pemerintah
dan setiap warga negaranya sadar akan pendidikan. Karena pendidikan merupakan
pondasi penting yang menjadi dasar dari tonggak kemajuan suatu bangsa.
Pendidikan yang lemah akan menyebabkan kehancuran suatu bangsa yang berakar
dari lemahnya intelektual, moral dan kepribadian setiap warga negaranya. Dimana
pendidikan adalah segala situasi yang hidup dan mempengaruhi pertumbuhan
seseorang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dapat
menimbulkan kompleknya tuntutan kehidupan dalam masyarakat, maka diperlukan
adanya spesialisasi kemampuan seseorang dalam melakukan tugasnya. Adanya
spesialisasi tugas diharapkan pekerjaan itu akan dapat diselesaikan dengan
baik, termasuk di dalamnya tugas guru dalam melaksanakan tugas kependidikan.
Sesuai dengan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Untuk itu
profesional guru dituntut agar terus berkembang sesuai perkembangan jaman, ilmu
pengetahuan, dan teknologi serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan
terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk
mampu bersaing baik diforum regional, nasional maupun internasional.
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara
keseluruhan dan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar
merupakan suatu rangkaian perbuatan guru dan siswa dalam situasi edukatif untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas
untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk
mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu
yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian
materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagaikegiatan dalam
belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses
perkembangan siswa (Slameto, 2003:97).
Dari observasi awal yang dilakukan pada tiga sekolah menunjukkan bahwa
pencapaian prestasi belajar pedidikan jasmani siswa masih ada yang belum
optimal. Dari setiap kali diadakan tes masih ada siswa yang belum mencapai
standar ketuntasan belajar yang ditetapkan yaitu sebesar 7,50. Untuk mengatasi
hal tersebut biasanya para guru mengadakan program remedial sampai siswa
tersebut dapat mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan. Berikut data
nilai ulangan akhir semester mata pelajaran pendidikan jasmani semester genap
tahun ajaran 2017/2018 pada tiga sekolah SMK di Kabupaten Sumedang:
Tabel 1.1.
Ketuntasan Belajar.
Nama Sekolah
|
Kelas
|
TT
|
%
|
T
|
%
|
Jml
|
|
|
|
|
|
|
|
SMK Pemua Sumedang
|
xi
|
17
|
41,46%
|
24
|
58,54%
|
41
|
|
|
|
|
|
|
|
SMK YPPS Sumedang
|
xi
|
42
|
50,60%
|
41
|
49,40%
|
83
|
|
|
|
|
|
|
|
SMK Maarif Sumedang
|
xi
|
18
|
11,76%
|
135
|
88,24%
|
153
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan
TT: Tidak Tuntas T: Tuntas Sumber: Dokumen Guru.
Siswa dfikatakan belum tuntas jika memperoleh nilai di bawah tujuh puluh
lima dalam penguasaan mata pelajaran pendidikan jasmani. Siswa dituntut untuk
menguasai materi secara tuntas karena mata pelajaran pendidikan jasmani
memerlukan penguasaan materi yang menyeluruh dimana setiap tahap atau proses pendidikan
jasmani merupakan sistem yang saling terkait.
Keberhasilan dalam belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
intern dan faktor ekstern. Guru adalah salah satu faktor ekstern tersebut.
Menurut Sudjana dalam Kuntoro (2008:6) guru adalah salah satu faktor dominan
yang mempengaruhi kualitas pembelajaran, namun guru akan dominan ketika
mempunyai kompetensi profesional. Guru yang mempunyai kompetensi profesional
baik, diperkirakan akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik pula.
Kemampuan profesional disebut juga sebagai kompetensi profesional. Masalah
kompetensi profesional guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus
dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun (Hamalik, 2006:34).
Trianto (2007:71) mengatakan minimal ada dua parameter standar yang
dijadikan rujukan bagi guru untuk keberhasilan dalam mengemban peran yaitu
kualifikasi pendidikan dan kompetensi. Guru
merupakan profesi/jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Sesuai
dengan UU Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi ini tidak dapat
dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan. Walaupun pada
kenyataannya masih banyak dilakukan oleh orang di luar kependidikan. Guru yang
kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif,
menyenangkandan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga belajar para siswa
dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dijelaskan bahwa
seorang guru harus mempunyai empat kompetensi dasar yaitu kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang
guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi
hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktulisasikan berbagai
potensi yang dimiliki. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang
mantap, stabil, dewasa, arif, berwibwa, teladan bagi peerta didik, dan
berakhlak mulia. Kompetensi sosial adalah kemampauan berkomunikasi dan bergaul
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional
adalah kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetesni
yang ditetapkan dalam standar nasional.
Penelitian ini mengkaji kompetensi guru dilihat dari kompetensi
profesional dan kompetensi pedagogik. Karena kompetensi profesional dan
kompetensi pedagogik merupakan kompetensi yang sangat penting dan berhubungan
langsung dengan proses belajar mengajar. Hal ini ditunjukkan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kuntoro (2008:90) pada guru di SMK yang mengajar
pendidikan jasmani di Kabupaten Sumedang yang menunjukkan bahwa secara parsial
kompetensi profesional guru berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa
di di SMK swasta yang ada di kabupaten Sumedang
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Setiyadi (2008:99) menunjukkan
bahwa pengaruh kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional lebih besar
pengaruhnya dibandingkan dengan kompetensi lainnya. Secara parsial hal ini
dapat dilihat dari besarnya thitung sebesar 3,822 dengan signifikansi
0,000<0,05
untuk
variabel persepsi siswa pada kompetensi pedagogik, besarnya pengaruh persepsi
siswa pada kompetensi pedagogik terhadap prestasi belajar sebesar 11,6%,
sedangkan kompetensi profesional besarnya pengaruh terhadap prestasi belajar
sebesar 21,25%. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa ada
pengaruh secara parsial antara kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional
terhadap prestasi belajar siswa.
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan, peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul ” Pengaruh Kompetensi Profesional dan pedagogik
Terhadap kualitas Belajar siswa Pada mata Pelajaran Pendidikan Jasmani”.
B.
Metode
Metode penelitian adalah
suatu cara yang digunakan untuk melakukan sebuah penelitian. Penggunaan metode
dalam pelaksanaan penelitian adalah hal yang sangat penting, sebab dengan
menggunakan metode penelitian yang tepat diharapkan dapat mencapai tujuan dan
pemecahan masalah yang diinginkan. Mengenai jenis dan bentuk metode penelitian
yang digunakan dalam sebuah penelitian biasanya disesuaikan dengan tujuan yang
ingin dicapai dalam sebuah penelitian tersebut. Seperti diungkapkan Surakhmad
(1982:131) bahwa “Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai
suatu tujuan.”. Sesuai dengan pendapat Furqon (2008:11) yang menyatakan bahwa,
“Pertimbangan yang tampak ilmiah tetapi tidak profesional seringkali menghambat
kita untuk berbuat sesuatu, sehingga kegiatan kita terbatas pada seminar dan
diskusi tanpa tindak lanjut yang nyata
Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif kolerasional yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada
pengaruh antara kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru terhadap
terhadap kualitas pembelajaran siswa pada mata pelajaran pendidikan jasmani
olahraga dan kesehatan di SMK Swasta Kabupaten SumedangKemudian teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Uji
Validitas dan Uji Reliabilitas
1) Uji
validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan instrumen penelitian
sebagai alat ukur yang
akurat dan dapat
dipercaya. Validitas menunjukkan
sejauh mana suatu alat
ukur, mengukur apa
yang ingin diukur.
Sedangkan reliabilitas
menunjukkan sejauh mana
suatu hasil pengukuran
relatif konsisten apabila pengukuran terhadap
aspek yang sama
atau disebut juga internal
consistency reliability.
2)
Uji normalitas. Uji normalitas data
digunakan untuk menguji data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak,
selanjutnya sebagai pertimbangan dalam menentukan statistik yang cocok untuk
pengujian hipotesis. Apabila data berdistribusi normal, maka digunakan
statistik parametrik, sebaliknya apabila tidak berdistribusi normal, maka
digunakan statistik non parametrik.
3)
Uji koefisien korelasi product moment untuk menguji hipotesis
pertama dan hipotesis kedua. Teknik korelasi sederhana yang digunakan adalah
korelasi Pearson. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara
variabel-variabel bebas dengan variabel terikatnya.
4)
Uji koefisien determinasi dimaksudkan
untuk menganalisis seberapa besar (dinyatakan dalam prosentase) kontribusi
variabel bebas terhadap variabel terikat.
5)
Persamaan
regresi berganda. Pengujian ini
menggunakan model probabilitas linier sebagaimana model regresi yang lain, di mana
parameternya dapat ditaksir
dengan prosedur kuadrat
terkecil biasa (OLS) yang
umum (Gujarati dalam
Wahyudin dan Narimo,
2005). Analisis ini digunakan
untuk mengetahui pengaruh
variabel independen (kompetensi guru dan fasislitas belajar
penjas) terhadap variabel dependen (motivasi belajar penjas).
6)
Uji
F dilakukan untuk mengetahui tingkat signifikansi variabel kompetensi
prodesional dan kompetensi pedagogik terhadap variabel kualitas pembelajaran
siswa.
C.
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian yg dilakukan,
penulis menemukan berbagai penemuan yang diuraikan pada bagian pembahasan ini.
Adapun pembahasan hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1.
Kompetensi Profesional Terhadap Kualitas Pembelajaran Peserta Didik
SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang
Data yang diperoleh dari hasil
pengolahan data yang bersumber dari para pendidik dilingkungan sekolah kejuruan
swasta di lingkungna Kabupaten Sumedang secara keseluruhan dapat disimpulkan
bahwa melalui profesional bekerja terutama pendidik mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran. Dalam pendidikan profesional guru di
sekolah semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurukulum, proses
pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penangan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, kegitan esktra
kulikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, ethis kerja seluruh warga
sekolah dan lingkungan sekolah. Terlepas dari barbagai kekurangan
dalam praktik pendidikan di Indonesia, implementasi pembelajaran dan penilaian
di sekolah dan tujuan pendidikan sebenarnya dapat dicapai dengan baik.
Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasi
serta direalisasikan oleh para peserta didik dalam kehidupan kehidupan
sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru
menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai dan belum pada
tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003.
Tentang pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa jalur
pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal yang saling
dapat melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan
keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peranan dan
kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Materi pembelajaran
yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu
dikembangankan, dieksplitasikan, dikaitkan dengan konteks kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya
pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada inetrnalisasi, pengamalan nyata
dalam kehidupan peserta didik dimasyarakat.
2.
Kompetensi Pedagogik Guru Penjas Terhadap Kualitas Pembelajaran
Peserta Didik SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang
Pendidikan merupakan
proses yang dilakukan dengan dasar yang jelas serta lebih mengedepankan
perubahan sikap yang dibarengi dengan peningkatan pola pikir dan wawasan
kehidupan. Berhubungan dengan permasalahan penelitian ini yaitu mengenai kompetensi pedagogik guru penjas terhadap
kualitas pembelajaran peserta didik SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang. Berdasarkan
pengolahan data diperoleh bahwa melalui uji kompetensi pedagogik memberikan
kontrbusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Sehingga secara fakta
dilapangan bahwa uji kompetensi tersebut dapat mengubah pandangan sesungguhnya
pendidik penting sekali menguasai komponen dalam pedagogik. Berdasarkan
penjelasan mengenai kompetensi pedagogik adalah keterampilan atau kemampuan
yang harus dikuasai seorang guru dalam melihat karakteristik siswa dari
berbagai aspek kehidupan, baik itu moral, emosional, maupun intelektualnya.
Implikasi dari kemampuan ini tentunya dapat terlihat dari kemampuan guru dalam
menguasai priinsip-prinsip belajar, mulai dari teori belajarnya hingga
penguasaan bahan ajar.
Hal tersebut yang menjadi dasar bahwa melalui kompetensi pedagogik mampu
memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Kompetensi pedagogik guru bersertifikasi masih
ditingkatkan secara terus-menerus. Kemampuan menyiapkan media, memanfaatkan
media pembelajaran dan memanfaatkan teknologi pembelajaran menjadi prioritas
utama, karena berdasarkan informasi guru bersertifikasi serta guru belum
bersertifikasi serta pernyataan kepala sekolah, sebanyak kurang lebih 30% guru
bersertifikasi pendidik berkategori cukup dan kurang mampu melaksanakan tugasnya
berhubungan dengan media dan teknologi pembelajaran. Padahal, media
pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran,
sehingga dapat tercapai suatu tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Menyiapkan media dan memanfaatkannya pada umumnya terkait erat dengan
pemanfaatan teknologi pembelajaran. Dengan demikian, ketiga kompetensi tersebut
dapat ditingkatkan secara simultan.
3.
Pengaruh antara Kompetensi
Profesional Dan Pedagogik Guru Penjas Terhadap Kualitas Pembelajaran Peserta
Didik SMK Swasta di Wilayah Kabupaten Sumedang
Berdasarkan hasil kajian pada sekolah yang menjadi kasus
dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa secara umum guru bersertifikasi
pendidik di sekolah tersebut sudah memiliki kompetensi pedagogik yang cukup
baik. Sebagian besar guru bersertifikasi memahami wawasan landasan pendidikan.
Indikator ini menunjukkan bahwa guru memiliki latar belakang pendidikan
keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk
pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis mata pelajaran, berarti guru
di sekolah tersebut telah memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan
dengan mata pelajaran yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan
pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Guru bersertifikasi
pendidik telah memiliki pemahaman terhadap peserta didik, melakukan perancangan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
memanfaatkan teknologi pembelajaran, melakukan evaluasi belajar, secara baik.
Hal ini menunjukkan bahwa semua guru bersertifikasi telah memiliki pemahaman
tentang psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar
pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing
anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, guru
memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak,
sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta
menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.
Upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang sudah
dikembangkan melalui perbaikan kurikulum tersebut, akan lebih efektif apabila
ditunjang dengan penggunaan sistem penilaian yang tepat. Sistem penilaian yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran
berbasis kompetensi adalah penggunaan instrumen penilaian yang dapat mengukur
aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lebih
Sanders dan Rivers (1996) dikutip oleh Siswandari dan Susilaningsih (2013: 489)
menyatakan bahwa, “Faktor paling penting yang memengaruhi prestasi peserta
didik adalah guru, dan faktor yang dapat meningkatkan prestasi peser ta didik
adalah guru yang berpengetahuan dan terampil. Dengan demikian, guru yang
berkualitas akan menghasilkan peserta didik yang berprestasi baik.”
Pencapaian
tujuan tersebut berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta
pengembangan sikap melalui proses pembelajaran. Selain itu, Hamdani (2010:193)
menyatakan kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau keefektifan. Secara
definitif, efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam
mencapai tujuan atau sasarannya (Etzioni dalam Hamdani 2010:194). Sementara
itu, Bramley (dalam Hamdani 2010:194) menyatakan bahwa belajar adalah sebuah
komunikasi terencana yang menghasilkan perubahan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan dalam hubungan dengan sasaran khusus yang berkaitan dengan pola
perilaku individu untuk mewujudkan tugas atau pekerjaan tertentu. Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas belajar dapat dimaknai dengan
tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Ditinjau dari kompetensi profesional, secara umum guru
bersertifikasi pendidik di sekolah yang menjadi kasus dalam penelitian ini
telah memiliki kompetensi profesional cukup baik. Guru bersertifikasi pendidik
telah memahami mata pelajaran yang diajarnya, mampu menyusun program
pengajaran, mampu menyusun perangkat penilaian, dan mampu mengembangkan
pembelajaran dengan media, metode, alat dan sumber belajar secara baik. Secara
konseptual, guru profesional melaksanakan pengajaran dengan baik, mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni yang dimilikinya sehingga tidak
usang, memiliki karakter dan kepribadian yang baik, berperilaku dan bersikap
yang baik dalam masyarakat, agen perubahan dan pembaharuan sehingga berbaur
dengan masyarakatnya, berperan aktif dalam organisasi profesi dan organisasi
masyarakat.
a.
Simpulan
Sesuai dengan latar belakang
masalah, perumusan masalah dan tujuan
serta hipotesis yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya hasil penelitian
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Terdapat
pengaruh yang signifikan kompetensi profesionalisme terhadap kualitas
pembelajaran peserta didik pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan di SMK Swasta
di Kabupaten Sumedang. Artinya jika
kompetensi profesional guru meningkat maka hualitas hasil belajar siswa akan
meningkat.
2.
Terdapat
pengaruh yang besar
kompetensi pedagogik guru penjas terhadap kualitas pembelajaran peserta didik pada mata pelajara
pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SMK Swasta di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian
jika kemampuan pedagogik guru meningkat maka akan dikuti dengan penikatan
kualitas hasil belajar siswa.
3.
Terdapat
perbedaan yang signifikan antara kompetensi profesionalisme dan pedagogik guru
penjas terhadap kualitas pembelajaran peserta didik pada mata pelajara
pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SMK Swasta Kabupaten Sumedang. Dengan demikian semakin meningkat kemampuan
kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru maka akan semakin
meningkat pula kualitas hasil pembelajaran siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar , S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Châu, G. 1996. The Quality of Primary Schools in Different
Development Contexts. UNESCO: International Institute for Educational
Planning.
Creswell, J.W. 2003. Research Design: Qualitative, Quantitative
and Mixed Methods Approaches. 2nd Edition. Thousand Oaks: Sage.
Heine, Hilda. 2006. Why Teacher Certification? Pacific Educator.
Fall 2006.
International 2009 Summit on Quality Educator Recruitment and
Retention. http:// www.pdkintl.org/member/docs/R_Teacher_Quality.pdf.
diunduh 10 Agustus 2012
Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nesbit, J., Belfer, K. & Vargo, J. 2002. A Convergent
Participation Model for Evaluation of Learning Objects. Canadian Journal of
Learning and Technology Volume 28(3) Fall / automne, 2002
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 05 Tahun 2012
tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
Rice, Jennifer. 2003. Understanding the Effectiveness of Teacher
Attributes. Retrieved on November 5, 2005 from
http://www.epinet.org/printer.cfm?id=1500&content_
type1&nice_namebooks_ teacher. diunduh 11 Maret 2018
Sanders, W. & Rivers J. 1996. Cumulative and Residual
Effects of Teachers on Future. Tennessee: University of Tennessee
Value-Added Research and Assessment Center
Siswandari. 2007. Kompetensi, Konsep Dasar Pengembangan
Kurikulum, dan Peningkatan Kualitas Pendidikan Berkelanjutan - tulisan
dimuat dalam Jurnal Pendidikan Dwija Wacana Jilid 8 No. 1, Mei 2007 – Jurnal
Terakreditasi SK Dirjen DIKTI No. 23a/DIKTI/Kep/2004 tgl 4 Juni 2004
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
0 Response to "ARTIKEL ILMIAH"
Posting Komentar