KREATIVITAS
GURU PENJAS DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMK PEMUDA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Guru
dalam proses belajar mengajar memiliki peranan yang sangat penting. Tanpa
adanya guru atau seorang pengajar, proses belajar mengajar di sekolah tidak
dapat berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu seorang guru dalam proses
belajar mengajar mutlak dibutuhkan. Seorang guru memiliki peran sebagai
pengajar dan pembimbing agar siswa dapat meraih tujuan pembelajaran. Tidak jarang seorang guru juga harus berperan
sebagai orang tua kedua bagi siswa di sekolah. Dengan demikian seorang guru
harus dapat berperan ganda bagi siswanya.
Pendidikan
sangat penting dalam upaya mencetak individu agar menjadi dirinya sendiri.
Dengan melalui proses pendidikan diharapkan individu dapat berkembang secara
optimal. Dalam hal ini Makmun (1986:3) menyatakan pendapatnya sebagai berikut:
… pendidikan dapat mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk
interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, non formal maupun
informal dalam rangka menjadikan dirinya sendiri sesuai dengan tahapan tugas
perkembangan secara optimal.
Untuk
dapat meraih tujuan pembelajaran di sekolah memang tidaklah mudah. Banyak
faktor yang harus diperhatikan untuk dapat meraih cita-cita atau tujuan yang
diinginkan tersebut. Faktor sarana dan prasarana, motivasi siswa, motivasi guru
adalah contoh faktor yang dapat mendukung berhasil atau tidaknya tujuan
pembelajaran. Karena tidak jarang di sekolah-sekolah terutama di tingkat
Sekolah Dasar (SD) yang minim sarana dan prasarana, sehingga proses belajar
mengajar tidak dapat terselengara dengan baik. Apa lagi pada proses belajar
mengajar Pendidikan Jasmani yang membutuhkan banyak sarana dan pra sarana. Tidak
semua sekolah mampu memenuhi kebutuhan sarana prasarana untuk proses
pembelajaran. Guru harus memiliki kreativitas yang tinggi agar dengan
keterbatasan sarana dan prasarana, proses belajar mengajar dapat berjalan
sebagaimana mestiya. Kemampuan memodifikasi alat, kemampuan memilih strategi
atau model pembelajaran harus dimiliki seorang guru, terutama guru Pendidikan
Jasmani.
Ciri-ciri
dari kreatifitas menurut Munandar (1992:51) mengemukakan bahwa: “Ciri-ciri kreatifitas
adalah kelancaran, fleksibilitas, orisional, eraborasi, atau perincian”. Adapun
mengenai hal-hal yang mempengaruhi kreativitas menurut Arifin (1979:30) sebagai
berikut:
- Perbedaan
pola pikir
- Perbedaan
pengetahuan
- Perbedaan
bakat
- Perbedaan
kepribadian
- Perbedaan
sikap
- Perbedaan
kebiasaan
- Perbedaan
sifat
- Perbedaan
motif
- Perbedaan
cita-cita
- Perbedaan
hasil belajar
- Perbedaan
fisik atau jasmani.
Selain
itu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain pengalaman mengajar,
latar belakang pendidikan yang berbeda, dan lingkungan. Oleh karena itu jelas
bahwa sikap kreatif belum tentu dimiliki oleh semua orang, demikian juga guru.
Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa setiap orang dapat menjadi kreatif.
Salah
satu kewajiban guru bersifat sangat penting adalah mendorong dan memotivasi
anak untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Proses belajar
mengajar terkait langsung dengan kegiatan belajar siswa. Belajar merupakan
suatu proses perubahan yang positif untuk mencapai suatu tujuan, manusia
belajar sepanjang hayatnya melalui berbagai sumber dan caranya. Kegiatan
belajar identik dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah
sebagai suatu lembaga formal. Di lingkungan sekolah diharapkan dapat tercipta
suatu interaksi aktif antara seorang guru sebagai pengajar dengan siswa yang
berkembang melalui pengalaman belajar. Tabrani (1992:27) mengemukakan bahwa:
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjukan pada apa yang harus
dilakukan seseorang yang menerima pelajaran (peserta didik) sedangkan mengajar
menunjukan pada apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi
pengajar.
Istilah belajar lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam mengikuti
pelajaran, sedangkan istilah mengajar lebih menekankan pada aktivitas guru
dalam memberikan materi pembelajaran. Oleh karena itu peningkatan mutu proses
belajar mengajar disemua mata pelajaran merupakan persoalan penting. Begitu
pula dalam mata pelajaran pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani menurut Lutan
(2000:16) adalah “bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang memberi
kontribusi kepada perkembangan individu melalui media alamiah yaitu aktifitas
fisik dan gerak termasuk olahraga”.
Pendidikan jasmani memberikan kontribusi yang berarti terhadap pertumbuhan
dan perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Kontribusi akan bermakna,
jika proses belajar mengajar pendidikan jasmani memberikan perubahan perilaku
dan pengetahuan terhdap peserta didik. Prioritas utama dalam upaya peningkatan
pendidikan jasmani di sekolah, yaitu dengan perwujudan secara optimal peranan
dan fungsi guru dalam kegiatan belajar mengajar baik diruangan maupun di
lapangan. Untuk lebih mengoptimalkan pencapaian proses
belajar mengajar pendidikan jasmani, guru perlu mempertimbangkan faktor
psikologis siswa, salah satunya adalah motivasi siswa. motivasi anak yang
tinggi akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif sehingga memungkinkan
siswa belajar secara efektif. Adapun motivasi dibangkitkan adalah motivasi
intrinsik, yaitu motivasi yang datang dari kemauan diri anak atau siswa itu sendiri.
Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar dari dalam diri individu. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Purwanto (1990:73) bahwa, “Motivasi
yaitu suatu usaha yang disaadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga
tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu
sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu”. Dengan adanya motivasi untuk
mencapai suatu tujuan, maka tindakan yang dilakukan akan dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh supaya hasilnya dapat diraih dengan baik. Selain itu motivasi
ditentukan juga oleh lingkungan, guru merupakan lingkungan yang sangat berperan
di dalam proses belajar. Oleh karena itu
untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar merupakan tugas penting
bagi guru.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyesuaikan dengan
kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu,
tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. Hal ini
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan
oleh Sardiman (2004:75) bahwa, motivasi adalah:
Keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa
yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang
hendak dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual,
peranannya adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang serta semangat
untuk belajar. merupakan dorongan dari dalam diri seseorang, motivasi dapat
disebabkan oleh adanya sesuatu yang dapat membuat seseorang melakukan tindakan
sesuai dengan kehendaknya. Motivasi untuk melakukan sesuatu dapat datang
dari diri sendiri yang dikenal dengan motivasi intrinsik dan dapat pula datang
dari lingkungan sekitar yang disebut dengan motivasi ekstrinsik. Dengan adanya
motivasi yang merupakan dorongan bagi siswa untuk belajar, maka siswa tersebut
diharapkan bisa belajar dengan baik supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Banyak siswa di sekolah, baik, SD, SMP maupun SMA yang cenderung kurang
antusias mengikuti pelajaran pendidikan jasmani atau olahraga. Mereka cenderung
menganggap bahwa mata pelajaran olahraga atau pendidikan jasmani tidak seperti
mata pelajaran lainnya. Siswa menganggap seolah-olah mata pelajaran olahraga
hanya seperti ektra kurikuler saja. Padahal apabila ditelaah secara lebih
mendalam, mata pelajaran olahraga akan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
mata pelajaran lainnya.
Ketika siswa memiliki kebugaran jasmani yang baik, maka konsentrasi untuk
mengikuti pelajaran yang lainnya akan lebih baik. Sebaliknya apabila kondisi
kebugaran siswa kurang baik, maka daya ingat, daya tangkap serta konsentrasi
untuk mengikuti pelajaran lainnya akan cepat menurun. Maka dari itu dibutuhkan kreatifitas guru untuk selalu menjaga
motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh pengajar.
B.
Fokus
Penelitian
Fokus penelitian yang disampaikan pada permasalahan ini lebih
mengutamakan kepada peran serta guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
melalui kreatifitas guru pendidikan jasmani, maka dari itu untuk lebih
membatasi permasalahan agar tidak melebar kepada pembahasan yang lain peneliti
memberikan fokus masalah penelitian adalah sebagai berikut:
1.
Peran
serta guru pendidikan jasmani dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMK
Pemuda
2.
Kreativitas
guru pendidikan jasmani dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran
C.
Pertanyaan
Penelitian
Pertanyaan
penelitian yang disampaikan pada penelitian ini didasarkan pada latar belakang
masalah adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah
peran serta guru pendidikan jasmani dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
SMK Pemuda?
2.
Bagaimanakah
kreativitas guru pendidikan jasmani dalam mendukung keberhasilan proses
pembelajaran pendidikan jasmani di SMK Pemuda?
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui peran serta guru pendidikan jasmani dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa SMK Pemuda
2.
Untuk
mengetahui kreativitas guru pendidikan jasmani dalam mendukung keberhasilan
proses pembelajaran pendidikan jasmani di SMK Pemuda
0 Response to "SISTEMATIKA PENULISAN TESIS"
Posting Komentar